Lahir pada tahun 1923 di Coana Ciu, Fajian, Cina — Eka dan keluarga pindah ke Indonesia saat Eka masih berumur 9 tahun. Untuk dapat pindah ke Indonesia keluarga Eka perlu meminjam uang dengan bunga yang tidak sedikit. Di Indonesia, kondisi keluarganya yang serba kekurangan hanya mampu mengantarkan Eka hingga tamat Sekolah Dasar saja.
Berbekal
ijasah SD, dia memulai bisnis pada usia 15 tahun. Eka membeli gula dan biskuit
dari toko grosir kemudian menjualnya secara eceran ke tetangga disekitar
rumahnya. Pendudukan Jepang membuat bisnis Eka berhenti. Pajak yang tinggi dari
Jepang memaksanya gulung tikar. Tidak kurang akal, ia kemudian banting setir
membeli 10 hektar lahan kelapa sawit.
Bisnis yang dia bangun berkembang
sangat pesat dan dia memutuskan untuk menambah bisnisnya. Pada tahun 1981
beliau membeli perkebunan sekaligus pabrik teh dengan luas mencapai 1000 hektar
dan pabriknya mempunyai kapasitas 20 ribu ton teh. Selain berbisnis di bidang
kelapa sawit dan teh, Eka Tjipta Widjaja juga mulai merintis bisnis bank. Ia
membeli Bank Internasional Indonesia dengan asset mencapai 13 milyar rupiah.
Namun setelah beliau kelola, bank tersebut menjadi besar dan memiliki 40 cabang
dan cabang pembantu yang dulunya hanya 2 cabang dan asetnya kini mencapai 9,2
trilliun rupiah.
Bisnis
yang semakin banyak membuat Eka Tjipta Widjaja menjadi semakin sibuk dan kaya.
Ia juga mulai merambah ke bisnis kertas. Hal ini dibuktikan dengan dibelinya PT
Indah Kiat yang bisa memproduksi hingga 700 ribu pulp per tahun dan bisa
memproduksi kertas hingga 650 ribu per tahun. Pemilik Sinarmas Group ini juga
membangun ITC Mangga Dua dan Green View Apartment yang berada di Roxy, dan tak
ketinggalan pula ia bangun Ambassador di Kuningan.

0 komentar